Minggu, 09 Juni 2013

CARA BAIK DALAM BERPACARAN "KRISTEN"



Cara yang Baik Dalam Berpacaran Dalam  Kekristenan

Inti dari pacaran adalah mencari pasangan hidup yang tidak akan disesali selama ia hidup, serta dapat memuliakan Tuhan dalam pernikahannya. 


Apabila kita sudah mengerti dan sudah dapat menghidupi firman ini, maka kita lihat apa saja yang perlu dalam berpacaran.
Orang kolot mengatakan,
tidak boleh pegang tangan
tidak boleh berpelukan
tidak boleh ciuman
Tetapi saya sebagai remaja mengatakan,
Peganglah tanggannya saat ia sedang lemah agar menjadi kuat
Peluklah ia saat merasakan kehampaan agar merasakan kehangatan akan perhatian
Kecuplah keningnya saat ia memerlukan penghargaan
Ciumlah bibirnya sebagai janji melangsungkan kehidupan pernikahan selamanya bersamanya..

Jumat, 10 Mei 2013

MAKNA SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN ALLAH "IMAGO DEI"


"IMAGO DEI"

    Banyak orang bertanya, "sebelum menciptakan manusia, apakah Allah tahu bahwa nanti manusia akan menentangNya?" Jawabannya, "tentu Allah tahu!" 
Dan belum sempat kita menjawab biasanya pertanyaan demi pertanyaan akan mereka lontarkan seperti peluru senjata otomatis.
Kalimat "kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita" menunjukkan bahwa Sang Pencipta memang telah merencanakan menciptakan Adam yang berbeda dengan semua makhluk lain. Makhluk lain tidak segambar dan serupa Allah, melainkan hanya Adam. Allah menghendaki agar ketika makhluk lain melihat Adam, mereka melihat Sang Pencipta. 
    Tujuan penciptaan telah diungkapkan dengan jelas yaitu "supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Allah berencana menciptakan makhluk yang mewakiliNya menguasai semua ciptaanNya yang lain. Ia menciptakan makhluk yang segambar dan serupa dengan diriNya sehingga ketika makhluk lain melihat Adam, mereka sepertinya melihat Sang Pencipta itu sendiri. [Selebihnya...] Seperti petani membuat boneka, agar ketika burung pipit melihat boneka yang bergerak-gerak ia mengira sang petani itu yang sedang menjaga sawahnya.
Sebagian theolog tidak berani menafsirkan kesegambaran dan keserupaan manusia dengan Allah adalah dalam hal bentuk, karena Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah itu Roh.
Tetapi kata besalmenu (gambar kita) dan kidmatenu (rupa kita) itu sesungguhnya menunjuk kepada bentuk. Pada Kej.9:6 dikeluarkan larangan membunuh manusia dengan alasan manusia diciptakan segambar dengan Allah. Dapat dimengerti bahwa penyerangan terhadap manusia yang adalah gambar Allah dapat dilihat sebagai penyerangan terhadap Allah sendiri. Ketika seseorang merobek-robek foto seseorang, memang dapat dilihat sebagai bentuk penyerangan terhadap orang itu.

Segambar dan serupa dalam roh? Lalu mengapakah ketika manusia telah mati, ketika rohnya telah meninggalkan tubuhnya, masih perlu dihormati? Apakah makna dibalik penguburan orang secara terhomat? Tuhan menghendaki agar orang yang telah mati, dikuburkan ke dalam tanah dengan hormat. Dengan hormat karena diciptakan sesuai gambar Allah, ke dalam tanah karena bahan baku tubuh tersebut terbuat dari tanah. Bapa-bapa beriman di PL telah tercatat menguburkan orang-orang mereka secara terhormat ke dalam tanah.
Kata besalmenu dan kidmatenu adalah kata yang biasa dipakai untuk menunjuk pada rupa seseorang. Set, anak Adam pengganti Habel dikatakan adalah seorang laki-laki menurut gambar dan rupa Adam, kata yang dipakai adalah persis sama dengan kata untuk menjelaskan bahwa Adam yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah.

DENGAN KEHENDAK BEBAS
Adam bukan hanya diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, bahkan dalam pasal 2 dirinci bahwa Adam terbuat dari debu tanah dan dihembusi nafas. Selanjutnya dikatakan bahwa Adam ditempatkan di taman Eden dan diberi tugas. Adam adalah satu-satunya makhluk yang bisa bertugas karena ia satu-satunya yang diberi kemampuan untuk berpikir. Kalau tidak, ia tidak mungkin bisa mengurus taman Eden dan mengendalikan semua makhluk ciptaan yang lain. Ia bisa berpikir dengan sangat cerdas, namun pikirannya belum terisi pengetahuan. Sama seperti seorang bayi yang memiliki kemampuan berpikir namun belum ada pengetahuan di dalam otaknya, demikianlah Adam sesaat selesai diciptakan. Bedanya hanyalah kemampuan berpikir bayi bertumbuh gradual sedangkan kemampuan berpikir Adam langsung pada tahap sempurna. Jadi otak Adam itu seperti prosesor komputer yang sangat canggih, namun belum ada program terisi di dalam memorinya.
Selain pikiran, Adam juga diberi kehendak bebas karena hanya makhluk yang berpikiran dan berkehendak bebaslah yang bisa bekerja. Tidak ada satu makhluk pun di atas muka bumi yang bisa diberi tugas selain manusia. Karena diberi kemampuan berpikir dan kehendak bebas maka Adam harus mempertanggungjawabkan pikiran dan kehendak bebas yang diberikan kepadanya. Dengan kemampuan berpikir dan kehendak bebas, bahkan perasaan, ia bisa berpikir, memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berkenan kepada Allah atau sebaliknya tidak berkenan kepada Allah, bahkan menentang Allah. Adam adalah pribadi (person) yang bisa berpikir, memutuskan sesuatu, bertindak, bisa tersinggung, marah dan mengasihi.
Mengapa Allah memutuskan menciptakan makhluk yang bisa menentangNya? Jawabannya, Allah ingin menikmati sikap positif dari makhluk ciptaanNya. Allah ingin dicintai sebagaimana Ia mencintai, itulah sebabnya Ia menciptakan makhluk yang bisa mencintai, makhluk yang berpikiran dan berperasaan. Allah tidak mau dicintai robot yang tidak berperasaan. Dan juga tidak mau dicintai oleh yang tidak ada pilihan selain mencintai, atau semacam cinta yang terpaksa. Ia menginginkan cinta dari makhluk yang bisa memilih yaitu yang berkehendak bebas. Jika makhluk itu bisa mencintai dan membenci, dan juga bisa memilih, lantas ia memilih mencintai, maka di situlah nikmatnya dicintai. Dicintai atas pemilihan subyek yang mencintai, bukan atas pengaturan obyek yang dicintai.
Dan efek samping dari bisa mencintai ialah bisa membenci. Singkatnya, Allah menciptakan makhluk yang seperti diriNya. Tentu manusia tidak memiliki kemampuan seperti diriNya melainkan memiliki sekedar kemampuan untuk mengendalikan makhluk-makhuk lain. Manusia benar-benar serupa Allah yang memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak bebas.
Jadi, Allah tahu manusia akan jatuh ke dalam dosa, namun bukan Allah yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam dosa. John Calvin bikin kesalahan ketika ia berkata bahwa Allahlah yang menyebabkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. [John Calvin, Institutes of Christian Religion. Ed. by John T. Mcniel. Trans.by Ford Lewis Battles (Philadelphia: The Westminster Press. 1960) hal.995].
Kegagalan utama calvinisme ialah pada pemahaman mereka terhadap manusia yang Allah ciptakan. Mereka gagal memahami Adam sebagai manusia berakal budi dan berperasaan serta berkehendak bebas. Itulah sebabnya John Calvin memaksakan kehendaknya kepada penduduk kota Geneva, karena ia berpikir bahwa Allah juga selalu memaksakan kehendakNya kepada semua ciptaanNya. Padahal sejak Allah menciptakan manusia yang berakal budi, berperasaan dan berkehendak bebas, Allah selalu konsisten dengan ketetapanNya. Ia tidak akan merubah ketetapanNya karena Ia tidak dapat menyangkal diriNya (II Tim.2:13).

SETELAH KEJATUHAN
Allah telah menciptakan manusia yang berakal budi, berperasaan, dan berkehendak bebas, atau pribadi (Person). Allah mau mereka mempraktekkan kehendak bebas yang Ia berikan. Itulah sebabnya Ia menempatkan dua jenis pohon ke dalam taman Eden, yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik-jahat. Adam diberitahu bahwa kalau ia memakan buah pohon kehidupan maka ia akan hidup selamanya (Kej.3:22) dan kalau ia memakan buah pohon pengetahuan baik-jahat maka ia akan mati (Kej.2:16-17).
Jika seseorang memberi kebebasan kepada anda untuk memilih, namun hanya disodorkan pada satu alternatif, maka orang itu sedang membohongi anda. Allah tidak berbuat demikian kepada Adam. Ia menciptakannya dengan kemampuan berpikir, memberinya kehendak bebas untuk memilih, dan juga memberikan alternatif kepadanya untuk dipilih.
Allah menghendaki Adam memilih buah pohon kehidupan, dan melarangnya memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Jika Adam dan Hawa percaya dan bersikap positif kepada Allah, maka mereka akan memakan buah pohon kehidupan, serta menjauhi pohon pengetahuan baik dan jahat.
Iblis tahu persis kondisi manusia yang memiliki kehendak bebas sebagaimana dirinya karena ia berasal dari malaikat. Hanya malaikat dan manusia yang diberi akal budi, perasaan dan kehendak bebas. Banyak orang bertanya, mengapa Allah tidak melarang iblis menguji Hawa? Jawabannya, kalau Allah berbuat demikian, maka apa manfaatnya manusia diberi kehendak bebas dan di taman Eden ditaruh dua macam pohon? Semua itu untuk mendapatkan sikap positif (kasih) makhluk pribadi yang diciptakanNya. John Calvin, demikian juga dengan John Owen pengikut setianya, menekankan tujuan penciptaan adalah untuk kemuliaan Allah terasa agak mengusik karena seolah-olah Allah kurang mulia sebelum menciptakan manusia. Padahal Allah telah memiliki kemuliaan dan telah sangat mulia serta tidak perlu tambah mulia lagi sebelum menciptakan manusia, dan manusia tidak bisa menambah kemuliaan Allah. Yang lebih tepat adalah Allah menciptakan makhluk pribadi, dan ingin mendapatkan sikap positif dari makhluk pribadi yang diciptakanNya. Tentu sikap positif yang timbul dari hati tiap-tiap pribadi, bukan yang ditentukan Allah.
Apakah Allah tahu Adam dan Hawa akan jatuh ke dalam dosa? Tentu Allah tahu! Tetapi Allah juga tahu bahwa kemudian mereka akan menyesal dan akan mengerti bahwa Allah sangat mengasihi mereka. Dan Allah tahu bahwa melalui mereka akan lahir manusia yang akan memusuhiNya, namun juga tahu akan ada yang mengasihiNya. Karena setelah kejatuhan manusia, Allah segera menjanjikan Juruselamat, kemudian ada banyak keturunan Adam dan Hawa yang merespons positif kepada kasih karunia Allah. Akibat dari memilih memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, manusia harus mati atau dihukum mati. Dosa tidak dapat dihapuskan dengan apapun selain dengan penghukuman, dan hukumannya adalah hukuman mati (Rom.6:23).
Juruselamat dijanjikan untuk menerima penghukuman itu. Adam dan Hawa, dan siapa saja yang hidup sebelum penjatuhan penghukuman kepada Sang Juruselamat harus percaya kepada Sang Juruselamat yang AKAN datang. Dua ekor binatang dimatikan dan mengambil kulitnya untuk membuat pakaian bagi mereka masing-masing. Walaupun tidak dikatakan domba, namun kemungkinan besar adalah domba karena kulit domba merupakan model pakaian kulit yang paling awal. Dan juga sekaligus sebagai simbol tentang proses penyelamatan yaitu tindakan penjatuhan hukuman kepada Sang Juruselamat yang dijanjikan.
Setelah kejatuhan, ternyata manusia tidak sampai kehilangan kesadaran dirinya, atau kehilangan kemampuan memutuskan atau kehilangan kemampuan memilih yang dimiliki sebelum kejatuhan. Kemampuan inteligensi manusia pun masih tetap sama bahkan Allah sendiri menyatakan (menyindir) bahwa manusia sudah sehebat Allah yaitu tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej.3:22). Manusia telah tahu tentang yang baik dan yang jahat, bahkan telah melakukan kejahatan, yaitu memihak iblis untuk menentang Allah.
Manusia memiliki inteligensi yang tetap sama sehingga sanggup menciptakan pesawat yang beratnya ratusan ton dan terbang di angkasa. Bahkan perkembangan teknologi yang sangat pesat di abad 21 ini telah menyebabkan sebagian manusia merasa betul-betul menjadi Allah.
Ungkapan "mati secara rohani" (Rom.6:13, Ef.2:1,Kol.2:13), tidak tepat untuk diartikan sebagai kehilangan kemampuan mengerti penjelasan tentang Allah dan keselamatan jiwa diri seseorang. Manusia setelah kejatuhan terbukti bisa mengerti berbagai hal termasuk hal-hal baik-buruknya, untung-ruginya, patut-tidaknya. Tentu sangatlah tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa pikirannya berhenti ketika mempermasalahkan tentang penciptanya, atau keselamatan jiwanya. "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (Ef.2:1)" bisa diartikan `dalam keadaan tidak ada hubungan dengan Allah yang adalah sumber kehidupan'. Dosa dan pelanggaran manusia telah menyebabkan terputusnya hubungannya dengan Allah yang maha kudus. Diperlukan keputusan untuk bertobat dan percaya kepada Kristus, Sang Penebus dosa, untuk menjadikan dirinya suci di hadapan Allah, barulah hubungan dengan Allah dipulihkan.
Setelah seseorang bertobat dan percaya kepada Kristus maka, "...telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita" (Kol.2:13-14). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa orang yang tadi mati secara rohani dihidupkan bersama Kristus dengan cara mengampuni pelanggarannya. Ia menjadi kudus di dalam Kristus dan memiliki hubungan kembali dengan Allah yang adalah sumber hidup.
Jadi, kematian rohani dan hidup kembali di dalam Kristus tidak ada hubungannya dengan kesanggupan memberi respon terhadap berita Injil keselamatan. John Calvin yang mengikuti Agustinus telah salah besar dalam menganalogikan kematian rohani dengan kematian jasmani dan menyimpulkan bahwa kondisi kematian rohani itu berarti tidak bisa bereaksi sama sekali terhadap rangsangan luar.
Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa ternyata bisa berhitung, bisa menciptakan berbagai peralatan, bisa mengenang hal-hal yang telah lampau, dan bisa berencana atas hal-hal yang akan datang. Terbukti manusia berdosa bisa memahami perkara rohani bahkan terlibat aktif perkara rohani dari aspek negatif. Mereka bisa menjalin hubungan dengan dunia iblis serta bisa menjadi alat-alat iblis. Manusia berdosa juga terlibat acara sembah-menyembah berbagai dewa dan illah. Timbulnya sikap menyembah kepada berbagai ilah walaupun salah tetap menunjukkan adanya kerinduan terhadap perkara rohani dalam diri manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Rahab bisa sampai pada keyakinan bahwa Jehovah adalah Allah yang berkuasa yang sudah pasti akan mengalahkan bangsanya, bukankah itu sebuah kesadaran rohani yang ditunjukkan manusia berdosa? Rut bisa memutuskan memilih Jehovah sebagai Allahnya bukankah juga sebuah bukti bahwa setelah manusia berdosa mendengar tentang kebenaran bisa membuat pilihan berpihak kepada kebenaran?
Kesimpulan yang tepat adalah bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ia sama sekali tidak kehilangan kesadaran diri, tidak kehilangan kemampuan berpikir, dan juga tidak kehilangan kemampuan memutuskan serta memilih. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa hanya kehilangan hubungan dengan Allah yang maha kudus karena Allah yang maha kudus tidak mungkin dihampiri manusia yang berdosa. Manusia yang jatuh ke dalam dosa telah Totally Depraved dalam arti telah kehilangan kemuliaan Allah (Rom.2:23), terputus hubungannya dengan Allah atau mati secara rohani oleh pelanggaran dan dosanya.

SETELAH DISELAMATKAN
Kondisi diselamatkan dari dosa, oleh Rasul Paulus juga disebut dihidupkan kembali di dalam Kristus. Jika dihubungkan dengan kehilangan kemuliaan Allah, maka dapat dikatakan dipulihkan kembali, atau diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Alkitab juga memakai istilah `dikuduskan'dan disebut `orang-orang kudus'.
Proses penyelamatan terhadap manusia berdosa ialah melalui penghukuman terhadap dosa, dan penghukuman itu diambil alih oleh Sang Juruselamat. Melalui sikap bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat seorang berdosa dihitung telah terhukum pada penghukuman yang dijalani Sang Juruselamat. Manusia berdosa yang hidup sebelum penghukuman Sang Juruselamat harus beriman kepada Sang Juruselamat yang akan dihukumkan. Sedangkan manusia berdosa yang hidup sesudah penghukuman Sang Juruselamat harus beriman kepada Sang Juruselamat yang sudah dihukumkan.
Manusia berdosa yang tadinya telah totally depraved, artinya telah putus hubungan dengan Allah karena dosa, atau telah mati secara rohani, dihubungkan kembali atau dihidupkan kembali atau dipulihkan kembali. Keselamatan yang terjadi pada seseorangsama sekali bukan pemaksaan, melainkan keputusan untuk merespon positif terhadap kasih karunia Allah. Sebagaimana kejatuhan manusia itu adalah keputusannya sendiri, demikian juga keselamatan adalah keputusan manusia itu sendiri untuk menyambut uluran kasih Allah.
Setelah pemulihan, atau penyelamatan, maka kondisi dan posisi manusia kembali seperti semula, yaitu saat sebelum kejatuhan. Adam dan Hawa adalah pribadi yang bebas, yang diberi kemampuan untuk memutuskan untuk dirinya sendiri. Demikianlah keturunan mereka yang telah jatuh ke dalam dosa, dan telah diselamatkan, yaitu memiliki kehendak bebas dan kemampuan untuk mengambil keputusan bagi mereka masing-masing. Sama sekali tidak ada indikasi bahwa keturunan Adam dan Hawa yang diselamatkan oleh Injil abstrak, bisa mempertimbangkan hal atas itu kehilangan kebebasan dan kemampuan mereka untuk mengambil keputusan.
Setelah diselamatkan, manusia tidak kehilangan kebebasan, karena manusia bukan tertangkap Allah untuk dibawa ke Sorga, melainkan merespon kasih karunia yang ditawarkan. Jika keselamatan itu terjadi karena terpengaruh "hipnotis" Allah, maka manusia kehilangan kebebasan atau kemampuan untuk memutuskan dan memilih.
Benar bahwa Allah memelihara iman orang yang telah percaya, namun sama sekali tidak berarti orang tersebut kehilangan kebebasannya untuk melepaskan kepercayaannya atau mengundurkan diri (Ibr.10:35,38). Sedangkan mengenai banyak atau tidak, bahkan ada atau tidak orang yang telah diselamatkan yang mau melepaskan kepercayaannya, itu bukan kasus yang dibicarakan, melainkan bahwa orang yang telah diselamatkan ternyata masih tetap pribadi yang bebas, bukan yang terjajah atau tertangkap Allah untuk ditransfer ke Sorga secara paksa.

KESIMPULAN
Manusia adalah ciptaan Allah yang diberi kemampuan berpikir, kesadaran diri, kehendak bebas, atau suatu pribadi. Manusia tidak pernah kehilangan semua itu ketika jatuh ke dalam dosa, melainkan hanya kehilangan kemuliaan Allah dan hubungan atau komunikasi dengan penciptanya. Setelah diselamatkan, manusia tetap adalah makhluk pribadi yang bebas, sebagaimana ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa.***

RUANG LINGKUP PROFESI KEGURUAN "LAYANAN BIMBINGAN AKADEMIK"



BAB I
PENDAHULUAN
            Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar, meliputi kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan tugas terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Tujuan layanan ini adalah peserta didik memiliki sikap, keterampilan, kesiapan dan kebiasaan belajar yang mandiri dalam rangka mencapai standar kompetensi (SK) peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Layanan akademik ini bersifat membantu guru dalam membentuk perilaku belajar peserta didik yang relevan dengan tuntutan pembelajaran agar guru lebih efisien dan efektif dalam menyelenggarakan pembelajaran. Di samping tercapainya prestasi belajar yang tinggi, layanan ini bekerjasama dengan guru akan membentuk perilaku belajar siswa yang mandiri sebagai mana tuntutan masyarakat informasi di abad 21. Di samping itu, layanan akademik juga membantu guru dalam mengadaptasi proses pembelajaran agar lebih sesuai dengan karakterisistik peserta didik. Apabila terdapat   gejala perilaku yang muncul misalnya mudah bosan, tidak memiliki perencanaan belajar, melembur belajar jika akan ujian, bergantung pada pihak lain dalam menentukan keputusan belajar, mengerjakan tugas belajar secara asal jadi, bahkan mencontek saat ujian. Mereka juga rendah dalam kemampuan membaca, membuat rangkuman, membuat catatan atas penjelasan guru, mengajukan dan menjawab pertanyaan. Layanan bimbingan akademik adalah kunci bagaimana mengatasi masalah ini. Sehingga lewat makalah ini kami memaparkan mengenai layanan bimbingan akademik sosial pribadi


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Layanan Bimbingan Akademik
            Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas yang cukup berat diantaranya sebagai fasilitator bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik (Nurwati, 2004).
            Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa. Prestasi akademik siswa merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan. Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang diajarkan (Suryabrata, 1998). Prestasi akademik pula yang menjadi tolak ukur dari tingkat pemahaman siswa terhadap materi tertentu yang telah diberikan setelah siswa mengalami proses belajar pada jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai.
            Prestasi akademik yang telah dicapai oleh seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut datangnya mungkin dari dalam diri ataupun dari luar diri individu. Dengan mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, maka akan mempermudah atau membantu siswa mencapai prestasi akademik yang memadai dan optimal.
            Dalam kegiatan belajar akan timbul berbagai masalah bagi siswa itu sendiri maupun bagi pengajar (guru). Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, bagaimana membuat rencana bagi siswa, menyesuaikan proses belajar, penilaian hasil belajar, kesulitan belajar dan sebagainya. Bagi siswa sendiri masalah-masalah belajar yang mungkin timbul adalah pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, mempersiapkan ujian dan sebagainya. Sehingga perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu siswa agar berhasil dan mencapai prestasi akademik yang diinginkan (Yusuf & Nurihsan, 2008).
2.      Tujuan Bimbingan Akademik
            Menurut Prayitno & Amti (2004) pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan dan berlaku kepada semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
            Menurut Prayitno & Amti (2004) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas lagi oleh Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah) menyebutkan bahwa (1) bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, (2) bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, serta alam yang ada, dan (3) bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.
            Menurut Gunarsa (1982) tujuan dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah supaya siswa memperoleh (1) kemampuan berprestasi di sekolah, (2) sikap menghormati kepentingan dan harga diri orang lain, (3) cara mengatasi kesulitan dirinya, (4) pemahaman tentang kesulitan sekolah, (5) penyelesaian kesulitan dalam hal belajar (6) pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal prestasi akademik, dan (7) persiapan bidang kerja yang tepat untuk masa depannya.


3.      Layanan bimbingan akademik sosial-pribadi
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu siswa dalam mengembangkan kehidupan pribadi, sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan diri siswa, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan serta peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga bertujuan membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi siswa.
            Ada empat (4) macam bimbingan, yaitu : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier. Namun dalam pembahasan ini, kami memfokuskan pada bimbingan sosial dan pribadi. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dilaksanakan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan siswa yang berkenaan dengan permasalahan ataupun kebutuhan tertentu yang dirasakannya. Sedangkan kegiatan pendukung dilaksanakan tanpa harus kontak langsung, dengan tujuan untuk mempermudah dan meningkatkan kelancaran serta keberhasilan kegiatan pelayanan.
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan oleh siswa, dari semenjak mereka memasuki sekolah di hari pertama, yaitu membantu berorientasi terhadap situasi, kondisi dan segala hal baru bahkan dirasakan asing bagi mereka. Lebih dari itu, bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam berorientasi, pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat lebih mendalam menjadi pelayanan konseling individu/kelompok, bukan hanya pelayanan orientasi. Dan, semenjak itulah pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari seorang siswa.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Akademik
            Guru Bimbingan dan Konseling tidak mengajar pada kelompok mata pelajaran, namun demikian bukan berarti mereka tidak memiliki peranan pada bidang akademik. Justru Guru Bimbingan dan Konseling dapat menjadi penunjang keberhasilan siswa pada bidang akademik. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang akademik dimulai dari saat pertama peserta didik memasuki sekolah, dengan tujuan agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya pada bidang akademik. Pada Masa Orientasi Siswa (MOS) Guru Bimbingan dan Konseling memberikan pelayanan dalam bentuk pemberian informasi tentang kurikulum, antara lain: macam-macam mata pelajaran yang akan diikuti oleh peserta didik selama satu (1) tahun pembelajaran, persyaratan nilai yang harus dipenuhi, sarana prasarana, (perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain), struktur organisasi sekolah, personil sekolah dan sebagainya, yang dapat menunjang keberhasilan pengembangan diri siswa pada bidang akademik.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik adalah bimbingan belajar, penempatan dan penyaluran, serta bagi siswa yang duduk di SMA kelas sepuluh (X) semester dua (2) dilakukan penjurusan. Untuk penjurusan Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan biro psikologi yang melaksanakan tes IQ ( tes kecerdasan), agar penjurusan sesuai dengan bakat, minat serta tingkat kecerdasan siswa.
            Pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik untuk siswas SMA kelas XII lebih mengarah kepada pengembangan karier, meliputi informasi berbagai macam jurusan di perguruan tinggi, persyaratan untuk memsukinyaa serta prospek masa depan dari perguruan tinggi tersebut. Disamping itu berbagai macam jabatan serta persyaratannya juga merupakan informasi penting yang diberikan oleh pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa di SMA kelas XII.
            Bagi siswa yang mengalami kesulitan pada bidang akademik (baik untuk kelas X, XI maupun XII), Guru Bimbingan dan Konseling melakukan konseling individual maupun konseling kelompok. Konseling yang dilakukan biasanya mengenai masalah belajar yang baik, cara membagi waktu, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, cara mengatasi kesulitan belajar, masalah kehadiran siswa di kelas, merencanakan masa depan, dan sebagainya. Dalam menangani masalah kesulitan belajar, Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru bidang studi, termasuk untuk pelayanan remedial.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Psikologis
            Pemahaman aspek psikologis siswa pada institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa yang unik dilihat dari segi perilaku, kepribadian, sikap, minat motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, intelegensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain.
Tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan karakteristik psikologis siswa harus dipahami oleh semua guru. Namun kenyataan tidak semua guru dapat memperhatikan hal tersebut, apalagi guru mata pelajaran yang sering kali dikejar dengan target kurikulum yang harus dipenuhi.
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang psikologis meliputi pengembangan pribadi siswa pada bidang psikologis seperti pemahaman terhadap diri sendiri, konsep diri, minat, bakat, kemampuan, sikap, sifat dan sebagainya. Pelayanan ini bertujuan agar siswa lebih memahami dirinya, sehingga dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
A.    Bimbingan pribadi
            Bimbingan pribadi merupakan komponen pelayanan bimbingan yang secara khusus dirancang untuk membantu individu menangani atau memecahkan masalah-masalah pribadi. Yang tergolong masalah pribadi antara lain adalah merasa kurang percaya diri, merasa cemas, merasa depresi, merasa frustrasi, merasa tertekan, memiliki rasa malu yang berlebihan, memiliki dorongan agresif yang kuat, kurang bisa konsentrasi, merasa malas dan tak bergairah untuk belajar dan beraktivitas, mengalami gangguan tidur, tidak bisa menemukan aktivitas untuk menyalurkan bakat, minat, hobi.  Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan pribadi – disebut pengembangan kehidupan pribadi – merupakan bidang pelayanan bimbingan yang dirancang untuk membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinay secara realistik.
            Berbagai permasalahan pribadi yang umum diperlihatkan oleh anak usia sekolah dasar antara lain adalah perasaan takut atau cemas, perasaan tidak mampu, perasaan minder, kelelahan dan kurang bergairah untuk belajar (malas). Bahkan menurut beberapa hasil penelitian di beberapa negara Barat, ditemukan banyak anak usia sekolah dasar yang mengalami gangguan depresi. Suatu penelitian yang dilakukan terhadap para peserta didik di sekolah dasar di Surabaya juga menemukan sejumlah peserta didik kelas empat dan lima sekolah dasar yang mengalami gangguan depresi (Trilaksono, 2004).  
B.     Bimbingan sosial
            Bimbingan sosial adalah suatu bentuk pelayanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu peserta didik menangani berbagai permasalahan sosial atau masalah yang muncul dalam hubungannya dengan orang lain. Berbagai bentuk permasalahan sosial antara lain adalah menarik diri, terkucil atau tak punya teman, sering cekcok dengan teman atau orang lain, tidak bisa berteman atau bergaul dengan baik dengan orang lain, sering terlibat dalam perkelahian, tidak bisa menerima hak-hak orang lain, dsb. Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan sosial – disebut kemampuan pengembangan sosial merupakan bidang pelayanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu peserta didik memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
            Berbagai bentuk masalah sosial yang biasanya diperlihatkan oleh peserta didik di sekolah dasar umumnya diperlihatkan dalam bentuk perilaku agresi anti sosial seperti perkelahian dengan teman dan berbagai bentuk perilaku menyerang yang lain, pengucilan, pencurian, pencemaran lingkungan, menentang, tidak patuh. Sekarang ini banyak ditemukan seju,lah anak usia sekolah dasar yang memperlihatkan berbagai bentuk perilaku tidak normatif dan melecehkan teman maupun orang tua. Tidak jelas apakah ini berkaitan dengan kurang ketatnya pendidikan dalam keluarga dan internalisasi nilai-nilai oleh orang tua pada anak atau karena maraknya model-model perilaku agresif yang diperlihatkan oleh media, atau karena sekolah kurang memberikan perhatian yang memadai terhadap pendidikan budi pekerti anak. Berkaitan dengan ini, pendidikan budi pekerti dapat menjadi bagian dari program bimbingan sosial anak.   
           


BAB III
PENUTUP
            Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar, meliputi kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan tugas terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Beberapa kegiatan yang diuraikan mungkin tidak secara langsung memberikan kontribusi pada peningkatan nilai akademik siswa. Namun jika kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan, maka budaya akademik akan tercipta di kalangan warga sekolah, terutama peserta didik, yang pada gilirannya berdampak positif pada pencapaian proses dan hasil pendidikan yang bermutu.
            Peserta didik akan mendapat manfaat maksimal dari semua kegiatan layanan akademik jika ia ikut terlibat dan berpartisipasi aktif pada setiap kegiatan. Oleh sebab itu kunci keberhasilan layanan akademik sesungguhnya terletak pada bangunan sistem pendidikan yang mampu melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran melalui pengembangan interaksi yang bersifat membantu.


DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin. (2000). Psikologi Kependidikan (Perangkat Sistem
Pengajaran Modul). Bandung : Rosda Karya.
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur
Balitbang.
Kosasi Raflis. (2009). Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.