Jumat, 10 Mei 2013

RUANG LINGKUP PROFESI KEGURUAN "LAYANAN BIMBINGAN AKADEMIK"



BAB I
PENDAHULUAN
            Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar, meliputi kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan tugas terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Tujuan layanan ini adalah peserta didik memiliki sikap, keterampilan, kesiapan dan kebiasaan belajar yang mandiri dalam rangka mencapai standar kompetensi (SK) peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi. Layanan akademik ini bersifat membantu guru dalam membentuk perilaku belajar peserta didik yang relevan dengan tuntutan pembelajaran agar guru lebih efisien dan efektif dalam menyelenggarakan pembelajaran. Di samping tercapainya prestasi belajar yang tinggi, layanan ini bekerjasama dengan guru akan membentuk perilaku belajar siswa yang mandiri sebagai mana tuntutan masyarakat informasi di abad 21. Di samping itu, layanan akademik juga membantu guru dalam mengadaptasi proses pembelajaran agar lebih sesuai dengan karakterisistik peserta didik. Apabila terdapat   gejala perilaku yang muncul misalnya mudah bosan, tidak memiliki perencanaan belajar, melembur belajar jika akan ujian, bergantung pada pihak lain dalam menentukan keputusan belajar, mengerjakan tugas belajar secara asal jadi, bahkan mencontek saat ujian. Mereka juga rendah dalam kemampuan membaca, membuat rangkuman, membuat catatan atas penjelasan guru, mengajukan dan menjawab pertanyaan. Layanan bimbingan akademik adalah kunci bagaimana mengatasi masalah ini. Sehingga lewat makalah ini kami memaparkan mengenai layanan bimbingan akademik sosial pribadi


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Layanan Bimbingan Akademik
            Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas yang cukup berat diantaranya sebagai fasilitator bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik (Nurwati, 2004).
            Keberhasilan dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang dicapai siswa. Prestasi akademik siswa merupakan suatu istilah yang menunjukkan derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan. Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang diajarkan (Suryabrata, 1998). Prestasi akademik pula yang menjadi tolak ukur dari tingkat pemahaman siswa terhadap materi tertentu yang telah diberikan setelah siswa mengalami proses belajar pada jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai.
            Prestasi akademik yang telah dicapai oleh seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut datangnya mungkin dari dalam diri ataupun dari luar diri individu. Dengan mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, maka akan mempermudah atau membantu siswa mencapai prestasi akademik yang memadai dan optimal.
            Dalam kegiatan belajar akan timbul berbagai masalah bagi siswa itu sendiri maupun bagi pengajar (guru). Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, bagaimana membuat rencana bagi siswa, menyesuaikan proses belajar, penilaian hasil belajar, kesulitan belajar dan sebagainya. Bagi siswa sendiri masalah-masalah belajar yang mungkin timbul adalah pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, mempersiapkan ujian dan sebagainya. Sehingga perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu siswa agar berhasil dan mencapai prestasi akademik yang diinginkan (Yusuf & Nurihsan, 2008).
2.      Tujuan Bimbingan Akademik
            Menurut Prayitno & Amti (2004) pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan dan berlaku kepada semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, dan yang mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik kelas dan lain-lain. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
            Menurut Prayitno & Amti (2004) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas lagi oleh Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah) menyebutkan bahwa (1) bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa, dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, (2) bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, serta alam yang ada, dan (3) bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.
            Menurut Gunarsa (1982) tujuan dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah supaya siswa memperoleh (1) kemampuan berprestasi di sekolah, (2) sikap menghormati kepentingan dan harga diri orang lain, (3) cara mengatasi kesulitan dirinya, (4) pemahaman tentang kesulitan sekolah, (5) penyelesaian kesulitan dalam hal belajar (6) pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal prestasi akademik, dan (7) persiapan bidang kerja yang tepat untuk masa depannya.


3.      Layanan bimbingan akademik sosial-pribadi
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu siswa dalam mengembangkan kehidupan pribadi, sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan diri siswa, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan serta peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga bertujuan membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi siswa.
            Ada empat (4) macam bimbingan, yaitu : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier. Namun dalam pembahasan ini, kami memfokuskan pada bimbingan sosial dan pribadi. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dilaksanakan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan siswa yang berkenaan dengan permasalahan ataupun kebutuhan tertentu yang dirasakannya. Sedangkan kegiatan pendukung dilaksanakan tanpa harus kontak langsung, dengan tujuan untuk mempermudah dan meningkatkan kelancaran serta keberhasilan kegiatan pelayanan.
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan oleh siswa, dari semenjak mereka memasuki sekolah di hari pertama, yaitu membantu berorientasi terhadap situasi, kondisi dan segala hal baru bahkan dirasakan asing bagi mereka. Lebih dari itu, bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam berorientasi, pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat lebih mendalam menjadi pelayanan konseling individu/kelompok, bukan hanya pelayanan orientasi. Dan, semenjak itulah pelayanan Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari seorang siswa.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Akademik
            Guru Bimbingan dan Konseling tidak mengajar pada kelompok mata pelajaran, namun demikian bukan berarti mereka tidak memiliki peranan pada bidang akademik. Justru Guru Bimbingan dan Konseling dapat menjadi penunjang keberhasilan siswa pada bidang akademik. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang akademik dimulai dari saat pertama peserta didik memasuki sekolah, dengan tujuan agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya pada bidang akademik. Pada Masa Orientasi Siswa (MOS) Guru Bimbingan dan Konseling memberikan pelayanan dalam bentuk pemberian informasi tentang kurikulum, antara lain: macam-macam mata pelajaran yang akan diikuti oleh peserta didik selama satu (1) tahun pembelajaran, persyaratan nilai yang harus dipenuhi, sarana prasarana, (perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain), struktur organisasi sekolah, personil sekolah dan sebagainya, yang dapat menunjang keberhasilan pengembangan diri siswa pada bidang akademik.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik adalah bimbingan belajar, penempatan dan penyaluran, serta bagi siswa yang duduk di SMA kelas sepuluh (X) semester dua (2) dilakukan penjurusan. Untuk penjurusan Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan biro psikologi yang melaksanakan tes IQ ( tes kecerdasan), agar penjurusan sesuai dengan bakat, minat serta tingkat kecerdasan siswa.
            Pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik untuk siswas SMA kelas XII lebih mengarah kepada pengembangan karier, meliputi informasi berbagai macam jurusan di perguruan tinggi, persyaratan untuk memsukinyaa serta prospek masa depan dari perguruan tinggi tersebut. Disamping itu berbagai macam jabatan serta persyaratannya juga merupakan informasi penting yang diberikan oleh pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa di SMA kelas XII.
            Bagi siswa yang mengalami kesulitan pada bidang akademik (baik untuk kelas X, XI maupun XII), Guru Bimbingan dan Konseling melakukan konseling individual maupun konseling kelompok. Konseling yang dilakukan biasanya mengenai masalah belajar yang baik, cara membagi waktu, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, cara mengatasi kesulitan belajar, masalah kehadiran siswa di kelas, merencanakan masa depan, dan sebagainya. Dalam menangani masalah kesulitan belajar, Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru bidang studi, termasuk untuk pelayanan remedial.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Psikologis
            Pemahaman aspek psikologis siswa pada institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa yang unik dilihat dari segi perilaku, kepribadian, sikap, minat motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, intelegensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain.
Tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan karakteristik psikologis siswa harus dipahami oleh semua guru. Namun kenyataan tidak semua guru dapat memperhatikan hal tersebut, apalagi guru mata pelajaran yang sering kali dikejar dengan target kurikulum yang harus dipenuhi.
            Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang psikologis meliputi pengembangan pribadi siswa pada bidang psikologis seperti pemahaman terhadap diri sendiri, konsep diri, minat, bakat, kemampuan, sikap, sifat dan sebagainya. Pelayanan ini bertujuan agar siswa lebih memahami dirinya, sehingga dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
A.    Bimbingan pribadi
            Bimbingan pribadi merupakan komponen pelayanan bimbingan yang secara khusus dirancang untuk membantu individu menangani atau memecahkan masalah-masalah pribadi. Yang tergolong masalah pribadi antara lain adalah merasa kurang percaya diri, merasa cemas, merasa depresi, merasa frustrasi, merasa tertekan, memiliki rasa malu yang berlebihan, memiliki dorongan agresif yang kuat, kurang bisa konsentrasi, merasa malas dan tak bergairah untuk belajar dan beraktivitas, mengalami gangguan tidur, tidak bisa menemukan aktivitas untuk menyalurkan bakat, minat, hobi.  Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan pribadi – disebut pengembangan kehidupan pribadi – merupakan bidang pelayanan bimbingan yang dirancang untuk membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinay secara realistik.
            Berbagai permasalahan pribadi yang umum diperlihatkan oleh anak usia sekolah dasar antara lain adalah perasaan takut atau cemas, perasaan tidak mampu, perasaan minder, kelelahan dan kurang bergairah untuk belajar (malas). Bahkan menurut beberapa hasil penelitian di beberapa negara Barat, ditemukan banyak anak usia sekolah dasar yang mengalami gangguan depresi. Suatu penelitian yang dilakukan terhadap para peserta didik di sekolah dasar di Surabaya juga menemukan sejumlah peserta didik kelas empat dan lima sekolah dasar yang mengalami gangguan depresi (Trilaksono, 2004).  
B.     Bimbingan sosial
            Bimbingan sosial adalah suatu bentuk pelayanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu peserta didik menangani berbagai permasalahan sosial atau masalah yang muncul dalam hubungannya dengan orang lain. Berbagai bentuk permasalahan sosial antara lain adalah menarik diri, terkucil atau tak punya teman, sering cekcok dengan teman atau orang lain, tidak bisa berteman atau bergaul dengan baik dengan orang lain, sering terlibat dalam perkelahian, tidak bisa menerima hak-hak orang lain, dsb. Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan sosial – disebut kemampuan pengembangan sosial merupakan bidang pelayanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu peserta didik memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
            Berbagai bentuk masalah sosial yang biasanya diperlihatkan oleh peserta didik di sekolah dasar umumnya diperlihatkan dalam bentuk perilaku agresi anti sosial seperti perkelahian dengan teman dan berbagai bentuk perilaku menyerang yang lain, pengucilan, pencurian, pencemaran lingkungan, menentang, tidak patuh. Sekarang ini banyak ditemukan seju,lah anak usia sekolah dasar yang memperlihatkan berbagai bentuk perilaku tidak normatif dan melecehkan teman maupun orang tua. Tidak jelas apakah ini berkaitan dengan kurang ketatnya pendidikan dalam keluarga dan internalisasi nilai-nilai oleh orang tua pada anak atau karena maraknya model-model perilaku agresif yang diperlihatkan oleh media, atau karena sekolah kurang memberikan perhatian yang memadai terhadap pendidikan budi pekerti anak. Berkaitan dengan ini, pendidikan budi pekerti dapat menjadi bagian dari program bimbingan sosial anak.   
           


BAB III
PENUTUP
            Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar, meliputi kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan tugas terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Beberapa kegiatan yang diuraikan mungkin tidak secara langsung memberikan kontribusi pada peningkatan nilai akademik siswa. Namun jika kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan, maka budaya akademik akan tercipta di kalangan warga sekolah, terutama peserta didik, yang pada gilirannya berdampak positif pada pencapaian proses dan hasil pendidikan yang bermutu.
            Peserta didik akan mendapat manfaat maksimal dari semua kegiatan layanan akademik jika ia ikut terlibat dan berpartisipasi aktif pada setiap kegiatan. Oleh sebab itu kunci keberhasilan layanan akademik sesungguhnya terletak pada bangunan sistem pendidikan yang mampu melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran melalui pengembangan interaksi yang bersifat membantu.


DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin. (2000). Psikologi Kependidikan (Perangkat Sistem
Pengajaran Modul). Bandung : Rosda Karya.
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur
Balitbang.
Kosasi Raflis. (2009). Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.