BAB I
PENDAHULUAN
Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan
konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar, meliputi
kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan tugas
terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Tujuan layanan ini
adalah peserta didik memiliki sikap, keterampilan, kesiapan dan
kebiasaan belajar yang mandiri dalam rangka mencapai standar kompetensi
(SK) peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
guru bidang studi. Layanan akademik ini bersifat membantu guru dalam
membentuk perilaku belajar peserta didik yang relevan dengan tuntutan
pembelajaran agar guru lebih efisien dan efektif dalam menyelenggarakan
pembelajaran. Di samping tercapainya prestasi belajar yang tinggi,
layanan ini bekerjasama dengan guru akan membentuk perilaku belajar
siswa yang mandiri sebagai mana tuntutan masyarakat informasi di abad 21. Di
samping itu, layanan akademik juga membantu guru dalam mengadaptasi
proses pembelajaran agar lebih sesuai dengan karakterisistik peserta
didik. Apabila terdapat gejala perilaku yang muncul misalnya
mudah bosan, tidak memiliki perencanaan belajar, melembur belajar jika akan
ujian, bergantung pada pihak lain dalam menentukan keputusan belajar,
mengerjakan tugas belajar secara asal jadi, bahkan mencontek saat ujian. Mereka
juga rendah dalam kemampuan membaca, membuat rangkuman, membuat catatan atas
penjelasan guru, mengajukan dan menjawab pertanyaan. Layanan bimbingan akademik
adalah kunci bagaimana mengatasi masalah ini. Sehingga lewat makalah ini kami
memaparkan mengenai layanan bimbingan akademik sosial pribadi
BAB II
PEMBAHASAN
1. Layanan Bimbingan Akademik
Pendidikan
mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa.
Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan
potensi-potensinya agar mencapai pribadi yang bermutu. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan formal mengemban tugas yang cukup berat diantaranya sebagai
fasilitator bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara
optimal. Indikator keberhasilan sekolah dalam mengemban tugasnya dapat dilihat
dari pencapaian prestasi akademik yang tinggi dan berbagai keterampilan khusus
yang dimiliki oleh peserta didik (Nurwati, 2004).
Keberhasilan
dari sebuah proses belajar di sekolah diukur dengan prestasi akademik yang
dicapai siswa. Prestasi akademik siswa merupakan suatu istilah yang menunjukkan
derajat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajar setelah melakukan
proses belajar dari suatu program yang telah ditentukan. Prestasi belajar
merupakan hasil kegiatan belajar dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan
penguasaan bahan pelajaran yang diajarkan (Suryabrata, 1998). Prestasi akademik
pula yang menjadi tolak ukur dari tingkat pemahaman siswa terhadap materi
tertentu yang telah diberikan setelah siswa mengalami proses belajar pada
jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai.
Prestasi akademik
yang telah dicapai oleh seorang siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut
datangnya mungkin dari dalam diri ataupun dari luar diri individu. Dengan
mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, maka akan
mempermudah atau membantu siswa mencapai prestasi akademik yang memadai dan
optimal.
Dalam kegiatan
belajar akan timbul berbagai masalah bagi siswa itu sendiri maupun bagi
pengajar (guru). Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar
berhasil, bagaimana membuat rencana bagi siswa, menyesuaikan proses belajar,
penilaian hasil belajar, kesulitan belajar dan sebagainya. Bagi siswa sendiri
masalah-masalah belajar yang mungkin timbul adalah pengaturan waktu belajar,
memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, mempersiapkan ujian dan
sebagainya. Sehingga perlunya program bimbingan dan konseling untuk membantu
siswa agar berhasil dan mencapai prestasi akademik yang diinginkan (Yusuf &
Nurihsan, 2008).
2. Tujuan Bimbingan Akademik
Menurut Prayitno &
Amti (2004) pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan dan berlaku kepada
semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang
berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar, maupun
siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, dan yang
mengalami masalah belajar seperti angka-angka rapor yang merah, tidak naik
kelas dan lain-lain. Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling
diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik mengingat sekolah
merupakan jenis layanan bimbingan dan konseling dalam segenap fungsinya. Para
guru terlibat langsung dalam pengajaran yang dikehendaki mencapai taraf
keberhasilan yang tinggi, memerlukan upaya penunjang bagi optimalisasi belajar
siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
Menurut Prayitno &
Amti (2004) keberadaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dipertegas
lagi oleh Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 (tentang Pendidikan Menengah)
menyebutkan bahwa (1) bimbingan dalam rangka menemukan pribadi siswa,
dimaksudkan untuk membantu siswa mengenal kelebihan dan kekurangan yang ada
pada dirinya, (2) bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan untuk
membentuk siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, ekonomi,
budaya, serta alam yang ada, dan (3) bimbingan dalam rangka merencanakan masa
depan, mempersiapkan diri untuk langkah yang dipilihnya setelah tamat belajar
pada sekolah menengah serta karier dan masa depannya.
Menurut Gunarsa (1982)
tujuan dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah supaya siswa
memperoleh (1) kemampuan berprestasi di sekolah, (2) sikap menghormati
kepentingan dan harga diri orang lain, (3) cara mengatasi kesulitan dirinya,
(4) pemahaman tentang kesulitan sekolah, (5) penyelesaian kesulitan dalam hal
belajar (6) pengarahan dalam mengatasi masalah dalam hal prestasi akademik, dan
(7) persiapan bidang kerja yang tepat untuk masa depannya.
3. Layanan bimbingan akademik sosial-pribadi
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu siswa dalam mengembangkan
kehidupan pribadi, sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan
karier. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan diri
siswa, baik secara individual maupun kelompok, sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, minat, perkembangan serta peluang yang dimiliki. Pelayanan ini
juga bertujuan membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang
dihadapi siswa.
Ada empat (4) macam bimbingan,
yaitu : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier. Namun dalam
pembahasan ini, kami memfokuskan pada bimbingan sosial dan pribadi. Pelayanan
Bimbingan dan Konseling di sekolah dilaksanakan melalui kontak langsung maupun
tidak langsung dengan siswa yang berkenaan dengan permasalahan ataupun
kebutuhan tertentu yang dirasakannya. Sedangkan kegiatan pendukung dilaksanakan tanpa
harus kontak langsung, dengan tujuan untuk mempermudah dan meningkatkan
kelancaran serta keberhasilan kegiatan pelayanan.
Pelayanan Bimbingan dan
Konseling sangat dibutuhkan oleh siswa, dari semenjak mereka memasuki sekolah
di hari pertama, yaitu membantu berorientasi terhadap situasi, kondisi dan
segala hal baru bahkan dirasakan asing bagi mereka. Lebih dari itu,
bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam berorientasi, pelayanan Bimbingan dan
Konseling dapat lebih mendalam menjadi pelayanan konseling individu/kelompok,
bukan hanya pelayanan orientasi. Dan, semenjak itulah pelayanan Bimbingan dan
Konseling merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari seorang siswa.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Akademik
Guru Bimbingan
dan Konseling tidak mengajar pada kelompok mata pelajaran, namun demikian bukan
berarti mereka tidak memiliki peranan pada bidang akademik. Justru Guru
Bimbingan dan Konseling dapat menjadi penunjang keberhasilan siswa pada bidang
akademik. Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang akademik dimulai dari
saat pertama peserta didik memasuki sekolah, dengan tujuan agar siswa dapat
mengembangkan potensi dirinya pada bidang akademik. Pada Masa Orientasi Siswa (MOS) Guru Bimbingan
dan Konseling memberikan pelayanan dalam bentuk pemberian informasi tentang
kurikulum, antara lain: macam-macam mata pelajaran yang akan diikuti oleh
peserta didik selama satu (1) tahun pembelajaran, persyaratan nilai yang harus
dipenuhi, sarana prasarana, (perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain),
struktur organisasi sekolah, personil sekolah dan sebagainya, yang dapat
menunjang keberhasilan pengembangan diri siswa pada bidang akademik.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik adalah bimbingan belajar, penempatan dan penyaluran, serta bagi siswa yang duduk di SMA kelas sepuluh (X) semester dua (2) dilakukan penjurusan. Untuk penjurusan Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan biro psikologi yang melaksanakan tes IQ ( tes kecerdasan), agar penjurusan sesuai dengan bakat, minat serta tingkat kecerdasan siswa.
Pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik untuk siswas SMA kelas XII lebih mengarah kepada pengembangan karier, meliputi informasi berbagai macam jurusan di perguruan tinggi, persyaratan untuk memsukinyaa serta prospek masa depan dari perguruan tinggi tersebut. Disamping itu berbagai macam jabatan serta persyaratannya juga merupakan informasi penting yang diberikan oleh pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa di SMA kelas XII.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik adalah bimbingan belajar, penempatan dan penyaluran, serta bagi siswa yang duduk di SMA kelas sepuluh (X) semester dua (2) dilakukan penjurusan. Untuk penjurusan Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan biro psikologi yang melaksanakan tes IQ ( tes kecerdasan), agar penjurusan sesuai dengan bakat, minat serta tingkat kecerdasan siswa.
Pelayanan Bimbingan Konseling pada bidang akademik untuk siswas SMA kelas XII lebih mengarah kepada pengembangan karier, meliputi informasi berbagai macam jurusan di perguruan tinggi, persyaratan untuk memsukinyaa serta prospek masa depan dari perguruan tinggi tersebut. Disamping itu berbagai macam jabatan serta persyaratannya juga merupakan informasi penting yang diberikan oleh pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa di SMA kelas XII.
Bagi siswa yang
mengalami kesulitan pada bidang akademik (baik untuk kelas X, XI maupun XII),
Guru Bimbingan dan Konseling melakukan konseling individual maupun konseling
kelompok. Konseling yang dilakukan biasanya mengenai masalah belajar yang baik,
cara membagi waktu, pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, cara
mengatasi kesulitan belajar, masalah kehadiran siswa di kelas, merencanakan
masa depan, dan sebagainya. Dalam menangani
masalah kesulitan belajar, Guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru
bidang studi, termasuk untuk pelayanan remedial.
Pelayanan
Bimbingan dan Konseling pada Pengembangan Diri Bidang Psikologis
Pemahaman aspek
psikologis siswa pada institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti
dalam pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sesuai
dengan karakteristik siswa yang unik dilihat dari segi perilaku, kepribadian,
sikap, minat motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, intelegensi, fantasi,
dan berbagai aspek psikologis yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang
lain.
Tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan karakteristik psikologis siswa harus dipahami oleh semua guru. Namun kenyataan tidak semua guru dapat memperhatikan hal tersebut, apalagi guru mata pelajaran yang sering kali dikejar dengan target kurikulum yang harus dipenuhi.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang psikologis meliputi pengembangan pribadi siswa pada bidang psikologis seperti pemahaman terhadap diri sendiri, konsep diri, minat, bakat, kemampuan, sikap, sifat dan sebagainya. Pelayanan ini bertujuan agar siswa lebih memahami dirinya, sehingga dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Tidak ada dua individu yang sama. Perbedaan karakteristik psikologis siswa harus dipahami oleh semua guru. Namun kenyataan tidak semua guru dapat memperhatikan hal tersebut, apalagi guru mata pelajaran yang sering kali dikejar dengan target kurikulum yang harus dipenuhi.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada bidang psikologis meliputi pengembangan pribadi siswa pada bidang psikologis seperti pemahaman terhadap diri sendiri, konsep diri, minat, bakat, kemampuan, sikap, sifat dan sebagainya. Pelayanan ini bertujuan agar siswa lebih memahami dirinya, sehingga dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
A.
Bimbingan
pribadi
Bimbingan
pribadi merupakan komponen pelayanan bimbingan yang secara khusus dirancang
untuk membantu individu menangani atau memecahkan masalah-masalah pribadi. Yang
tergolong masalah pribadi antara lain adalah merasa kurang percaya diri, merasa
cemas, merasa depresi, merasa frustrasi, merasa tertekan, memiliki rasa malu
yang berlebihan, memiliki dorongan agresif yang kuat, kurang bisa konsentrasi,
merasa malas dan tak bergairah untuk belajar dan beraktivitas, mengalami
gangguan tidur, tidak bisa menemukan aktivitas untuk menyalurkan bakat, minat,
hobi. Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh Pusat
Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan pribadi –
disebut pengembangan kehidupan pribadi – merupakan bidang pelayanan bimbingan
yang dirancang untuk membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan
mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai
dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinay secara realistik.
Berbagai permasalahan
pribadi yang umum diperlihatkan oleh anak usia sekolah dasar antara lain adalah
perasaan takut atau cemas, perasaan tidak mampu, perasaan minder, kelelahan dan
kurang bergairah untuk belajar (malas). Bahkan menurut
beberapa hasil penelitian di beberapa negara Barat, ditemukan banyak anak usia
sekolah dasar yang mengalami gangguan depresi. Suatu penelitian yang dilakukan
terhadap para peserta didik di sekolah dasar di Surabaya juga menemukan
sejumlah peserta didik kelas empat dan lima sekolah dasar yang mengalami
gangguan depresi (Trilaksono, 2004).
B.
Bimbingan
sosial
Bimbingan
sosial adalah suatu bentuk pelayanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu
peserta didik menangani berbagai permasalahan sosial atau masalah yang muncul
dalam hubungannya dengan orang lain. Berbagai bentuk permasalahan sosial antara
lain adalah menarik diri, terkucil atau tak punya teman, sering cekcok dengan
teman atau orang lain, tidak bisa berteman atau bergaul dengan baik dengan
orang lain, sering terlibat dalam perkelahian, tidak bisa menerima hak-hak
orang lain, dsb. Dalam panduan model pengembangan diri yang dikeluarkan oleh
Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2007) dikemukakan bahwa bimbingan sosial –
disebut kemampuan pengembangan sosial merupakan bidang pelayanan bimbingan yang
diarahkan untuk membantu peserta didik memahami, menilai, dan mengembangkan
kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota
keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
Berbagai bentuk
masalah sosial yang biasanya diperlihatkan oleh peserta didik di sekolah dasar
umumnya diperlihatkan dalam bentuk perilaku agresi anti sosial seperti
perkelahian dengan teman dan berbagai bentuk perilaku menyerang yang lain,
pengucilan, pencurian, pencemaran lingkungan, menentang, tidak patuh. Sekarang
ini banyak ditemukan seju,lah anak usia sekolah dasar yang memperlihatkan
berbagai bentuk perilaku tidak normatif dan melecehkan teman maupun orang tua.
Tidak jelas apakah ini berkaitan dengan kurang ketatnya pendidikan dalam
keluarga dan internalisasi nilai-nilai oleh orang tua pada anak atau karena
maraknya model-model perilaku agresif yang diperlihatkan oleh media, atau
karena sekolah kurang memberikan perhatian yang memadai terhadap pendidikan
budi pekerti anak. Berkaitan dengan ini, pendidikan budi pekerti dapat menjadi
bagian dari program bimbingan sosial anak.
BAB III
PENUTUP
Layanan akademik adalah layanan bimbingan dan
konseling yang memandirikan peserta didik dalam kegiatan belajar,
meliputi kegiatan tatap muka (pembelajaran di kelas), pengerjaan
tugas terstruktur dari guru dan belajar secara mandiri. Beberapa
kegiatan yang diuraikan mungkin tidak secara langsung memberikan kontribusi
pada peningkatan nilai akademik siswa. Namun jika kegiatan ini dilakukan
secara berkesinambungan, maka budaya akademik akan tercipta di kalangan warga
sekolah, terutama peserta didik, yang pada gilirannya berdampak
positif pada pencapaian proses dan hasil pendidikan yang bermutu.
Peserta didik akan mendapat manfaat maksimal dari semua
kegiatan layanan akademik jika ia ikut terlibat dan berpartisipasi aktif pada
setiap kegiatan. Oleh sebab itu kunci keberhasilan layanan akademik
sesungguhnya terletak pada bangunan sistem pendidikan yang mampu melibatkan
peserta didik dalam proses pembelajaran melalui pengembangan interaksi yang
bersifat membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin. (2000).
Psikologi Kependidikan (Perangkat Sistem
Pengajaran Modul). Bandung : Rosda
Karya.
Depdiknas. (2003). Pelayanan
Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur
Balitbang.
Kosasi Raflis. (2009). Profesi
Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.