Ironi di Halaman Sekolah: Mengapa Gaji Petugas Makan Bergizi Gratis Lampaui Guru Honorer?
Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh perbandingan yang cukup menyentak nurani. Seorang pencuci wadah nasi atau sopir dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan bisa mengantongi pendapatan yang jauh lebih besar daripada seorang guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun.
Fenomena ini memicu diskusi panas: Apakah kita lebih memprioritaskan "perut" daripada "otak" bangsa? Mari kita bedah ketimpangan ini secara objektif.
![]() |
| Pegawai SPPG VS Guru Honor |
Perbandingan Angka yang Mencolok
Data dari berbagai laporan lapangan menunjukkan jurang pendapatan yang sangat lebar antara kedua sektor ini:
| Posisi | Estimasi Pendapatan per Bulan | Status |
| Pekerja MBG (Sopir/Dapur) | Rp2.500.000 – Rp4.500.000 | Kontrak/PPPK Program |
| Kepala Dapur MBG | Rp6.000.000 – Rp8.000.000 | Profesional/PPPK |
| Guru Honorer (Daerah) | Rp300.000 – Rp1.000.000 | Honorer/BOS |
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Ada alasan sistemik mengapa pekerja di program baru seperti MBG bisa langsung mendapatkan standar gaji yang lebih manusiawi dibanding guru:
Sumber Anggaran yang Berbeda
Program MBG merupakan Program Strategis Nasional (PSN) yang anggarannya diproteksi langsung oleh pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional. Sebaliknya, gaji guru honorer seringkali bergantung pada sisa Dana BOS di sekolah yang jumlahnya sangat terbatas dan terbagi-bagi.
Kepastian Regulasi
Petugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung direkrut dengan skema upah harian yang setara UMR atau bahkan diarahkan menjadi PPPK. Sementara itu, masalah guru honorer masih terjebak dalam masalah pendataan pangkalan data BKN dan proses seleksi yang panjang.
Prioritas "Program Baru" vs "Masalah Lama"
Sebagai program unggulan pemerintahan baru, MBG datang dengan sistem tata kelola yang segar dan modern. Sementara isu guru honorer adalah "penyakit kronis" birokrasi yang sudah menumpuk selama puluhan tahun, sehingga penyelesaiannya terasa lambat dan berbelit-belit.
Di Mana Letak Ketimpangannya?
Ketimpangan ini bukan sekadar soal angka, tapi soal keadilan struktural:
Beban Syarat vs Penghargaan: Guru honorer diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan minimal S1, namun upahnya seringkali tidak cukup untuk menutupi biaya transportasi harian. Di sisi lain, pekerjaan lapangan di sektor MBG yang syarat pendidikannya lebih rendah, mendapatkan apresiasi finansial yang lebih layak.
Kehadiran Negara yang Kontras: Guru honorer merasa "ditinggal" oleh negara, sementara mereka melihat petugas pengantar makanan wara-wiri di sekolah dengan fasilitas dan gaji yang jelas.
"Masalahnya bukan karena gaji petugas MBG terlalu tinggi—karena mereka memang layak hidup sejahtera—tapi masalahnya adalah mengapa gaji guru honorer masih sangat rendah di saat negara sanggup membiayai program besar lainnya."
Kesimpulan
Isu ini seharusnya tidak membenturkan antarpekerja. Baik petugas dapur MBG maupun guru honorer, keduanya adalah pejuang bagi masa depan anak-anak kita. Namun, ini adalah peringatan bagi pemerintah untuk segera melakukan pembenahan upah di sektor pendidikan. Bangsa yang besar bukan hanya yang mampu memberi makan anak-anaknya, tetapi juga yang mampu menghargai mereka yang mencerdaskannya.







