Belajar dari Kasus Panji Pragiwaksono: Di Mana Batas Etika dalam Bicara Publik?
Dunia komedi dan opini publik baru-baru ini kembali memanas menyusul potongan video dan pernyataan dari komika senior, Panji Pragiwaksono. Sebagai sosok yang dikenal dengan gaya bold dan sering menabrak tabu, Panji kerap menjadi pusat diskusi mengenai sejauh mana seorang figur publik boleh melontarkan kritik atau candaan.
Namun, kasus ini bukan sekadar tentang "lucu atau tidak lucu". Ini adalah cermin dari pergeseran standar etika bicara publik di era digital.
1. Konteks: Mengapa Menjadi Polemik?
Setiap kali Panji memicu percakapan (baik itu soal isu sosial, politik, atau gaya hidup), biasanya ada dua kubu yang terbentuk:
Kubu Kebebasan Berekspresi: Menganggap bahwa stand-up comedy dan opini publik adalah ruang jujur yang tidak boleh dibatasi oleh rasa tersinggung.
Kubu Etika & Empati: Menganggap bahwa cara penyampaian yang terlalu agresif atau pemilihan diksi yang dianggap merendahkan pihak tertentu telah melampaui batas kesantunan publik.
2. Memahami Batas Antara Kritik dan Penghinaan
Dalam etika komunikasi, ada garis tipis yang seringkali kabur saat kita bicara di depan umum:
Subjektivitas Komedi: Komedi sering kali menggunakan teknik exaggeration (melebih-lebihkan). Masalah muncul ketika audiens menangkap pesan tersebut sebagai serangan personal atau penghinaan terhadap institusi/kelompok tanpa konteks humor yang utuh.
Prinsip "Punching Up" vs "Punching Down": Etika bicara publik yang sehat biasanya mendukung punching up (mengkritik pihak yang lebih berkuasa). Polemik sering terjadi jika narasi yang dilempar dianggap punching down atau menyudutkan mereka yang rentan atau tidak punya ruang untuk membela diri.
3. Tanggung Jawab Digital (Digital Responsibility)
Seorang komika sekelas Panji memiliki platform yang besar. Di sinilah letak tantangan etikanya:
Konteks yang Terpotong: Di era TikTok dan Reels, sebuah argumen sepanjang 10 menit bisa dipotong menjadi 15 detik yang provokatif. Etika bicara publik saat ini menuntut pembicara untuk sadar bahwa pesan mereka akan "dimutilasi" oleh algoritma.
Dampak Sosial: Kata-kata bukan sekadar bunyi; mereka membentuk persepsi. Ketika figur publik bicara, ada tanggung jawab moral terhadap dampak yang ditimbulkan pada opini massa.
"Kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan dari konsekuensi. Etika adalah navigasi agar pesan kita sampai tanpa harus menghancurkan martabat orang lain."
4. Pelajaran untuk Kita Semua
Kita tidak perlu menjadi komika terkenal untuk belajar dari kasus ini. Berikut adalah tiga poin refleksi untuk cara kita berkomunikasi di ruang publik (media sosial):
Validasi Data sebelum Opini: Pastikan argumen memiliki dasar yang kuat agar tidak tergelincir menjadi fitnah.
Pikirkan Audiens Luas: Ingat bahwa ruang publik bersifat heterogen. Apa yang dianggap "biasa" di lingkaran pertemanan kita, bisa jadi menyakitkan bagi orang lain yang memiliki latar belakang berbeda.
Siap Berdialog, Bukan Sekadar Menyerang: Etika komunikasi melibatkan kemampuan untuk mendengarkan umpan balik, bahkan jika umpan balik itu berupa kritik pedas.
Kesimpulan
Kasus Panji Pragiwaksono mengingatkan kita bahwa komunikasi adalah sebuah seni yang dinamis. Kita membutuhkan keberanian untuk jujur, namun kita juga membutuhkan empati untuk tetap manusiawi. Menjaga etika bukan berarti membungkam kebenaran; itu adalah cara memastikan kebenaran tersebut dapat diterima dengan cara yang bermartabat.



